Kapal LPG 2, “Bukti” Bisnis Pertamina untuk Ketahanan Energi

1845317091020141598780x390

 

HSE CENTER – Ketahanan energi nasional dalam beberapa bulan belakangan kian hangat diperbincangkan. Apalagi, setelah kenaikan harga elpiji 12 kg dan pembatasan BBM bersubsidi direalisasikan pemerintah pada Agustus 2014.

Tak ayal, gelombang kritik dan pertanyaan akan kinerja PT Pertamina (Persero) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor minyak dan gas (Migas) pun muncul sebagai konsekuensi logis kebijakan itu.

Kompas.com dan beberapa media serta rombongan Kompasianer (Sebutan bagi bloger yang tergabung dalam Kompasiana) berkesempatan menyambangi kapal penampung elpiji milik Pertamina yaitu Kapal Pertamina LPG 2 di Teluk Kalbut, Situbondo, Jawa timur, Kamis (9/10/2014).

Takjub, begitu ekspresi rombongan setalah melihat kapal yang memiliki lambung berwarna merah dengan tulisan “PERTAMINA LPG” dari kejauhan.

Kapal dengan panjang 225 meter, lebar 37 meter dan tinggi 51 meter itu nampak gagah di tengah arus tenang Teluk Kalbut siang itu.

Letak kapal yang berada ditengah laut harus dicapai dengan menaiki kapal kecil nelayan dan kemudian berpindah menggunakan kapal sedang sebelum akhirnya mencapai Kapal Pertamina LPG 2

Setelah dipersilahkan naik dan disambut Kapten Kapal dan awaknya, rombongan diajak melihat beberapa bagian kapal tersebut.  Kapten Kapal, Kosim mengatakan, kapal itu dilengkapi teknologi yang sangat modern. Dalam navigasi misalnya, kapal ini memiliki Global Positioning System (GPS) untuk sistem navigasi yang memanfaatkan satelit.

Selain itu, kapal seharga 73 juta dollar AS itu juga dilengkapi dengan radar anti sadap, Voyage data recorder (VDR) untuk mampu merekam semua aktivitas termasuk perbincangan di dalam anjungan kapal, dan kemampuan melaju sampai kecepatan 18 knot atau 18 mil laut per jam.

Tak hanya itu, teknologi canggih pun terlihat dalam ruangcontroller kapal. Semua jaringan kapal termasuk alat pengecekan jumlah serta suhu gas yang ada ditangki yang terletak dilambung kapal memakai sistem online. Dengan begitu maka yang setiap perubahan jumlah ataupun suhu gas bisa dimonitoring setiap saat.

Penempatan Kapal Pertamina LPG 2 di Teluk Kalbut menurut Kapten Kosim bukan tanpa alasan. Setidaknya ada dua pertimbangan yaitu pertimbangan geografis kerena relatif berada ditengah-tengah Indonesia dan kedua pertimbangan kondisi yaitu arus laut relatif tenang sehingga dinilai cocok untuk mengefisienkan distribusi penyaluran elpiji ke kawasan Indonesia timur.

Asa ketahanan energi

Dibalik ketenangan Kapal Pertamina LPG 2 siang itu, tak disangka rupanya kapal yang baru didatangkan 21 Mei 2014 tersebut memiliki tugas yang besar. Pasalnya, kapal seharga 73 juta dollar AS itu merupakan kapal penampung 45.000 metrik ton elpiji untuk memasok kebutuhan gas kawasan Indonesia timur.

Layaknya kapal induk, kapal kelas very large gas carrier (VLGC) itu menyalurkan elpiji langsung kepada kapal-kapal kecil untuk kemudian mendistribusikannya ke gugusan pulau-pulau nusantara seperti Sulawesi, Maluku bahkan ke Papua. Bahkan setiap bulannya, kapal buatan Korea Selatan itu mampu menyalurkan elpiji ke hampir 6 kapal kecil untuk memenuhi sekitar 120 ribu metrik ton kebutuhan gas kawasan Indonesia timur per bulan.

Gas yang ditampung dikapal Pertamina LPG 2 sendiri merupakan elpiji impor dari Saudi Aramco yang biasanya memasok elpiji dua kali dalam satu bulan. Impor elpiji disebabkan karena produksi elpiji belum mampu memenuhi kebutuhan elpiji nasional saat ini.

Bukan tanpa maksud, pembelian kapal paling “anyar” menurut perusahaan migas plat merah tersebut, merupakan usaha memperlihatkan salah satu bukti bahwa hasil bisnis Pertamina selama ini digunakan untuk investasi yang bermanfaat bagi tercapainya ketahanan energi nasional.

Sebelumnya, Pertamina harus menyewa kapal yang kapasitas penyimpanan gasnya tidak sebesar Kapal Pertamina LPG 2 sehingga berpengaruh terhadap pasokan gas ke Indonesia timur. Namun, setelah lima bulan keberadaan kapal ke 62 milik Pertamina itu datang di tanah air, distribusi elpiji keberbagai pulau di Indonesia timur menjadi lebih baik jika dibandingkan sebelum adanya Kapal tersebut.

“Seperti kita tahu, Indonesia adalah negara kepulauan. Jadi, kapal ini menjadi perajut pulau-pulau di kawasan Indonesia timur. Ini salah satu bukti usaha Pertamina menjaga ketahanan energi nasional kita,” kata Media Officer Pertamina Marlo Dieka di atas anjungan.

Tags: lowongan hse, lowongan hse 2014, lowongan hse coordinator, lowongan hse migas, lowongan hse officer, lowongan hse supervisor, pelatihan ahli k3, training k3, pelatihan k3, lowongan safety man, lowongan safety officer, lowongan safety supervisor, lowongan safety oktober 2014,  lowongan safety inspector, lowongan safety officer oktober 2014, lowongan safety oktober 2014,

Sumber : Kompas.com

1776 Total Views 4 Views Today

Type U'r Comments | Ketik Komentar Anda

comments

468 ad

Leave a Reply

error: Content is protected !!