PELATIHAN & SERTIFIKASI JURU IKAT (RIGGER)

PELATIHAN & SERTIFIKASI JURU IKAT (RIGGER)

Tujuan & ManfaatPelatihan ini bertujuan memberikan pengetahuan dan ketrampilan mengenai tugas dan fungsi dari pekerjaan pengikatan yang benar dan aman. Aman bagi para tenaga kerja, barang – barang yang dibawa atau diikat dan aman bagi lingkungan tempat kerja. Sehingga akan menciptakan tenaga kerja yang professional dibidang pengikatan atau rigging. Dan untuk memenuhi tuntutan standarisasi international (ISO 9000 dan ISO 14000) dan juga system manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3).   Materi Pelatihan 1. Undang – Undang No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja 2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05 Tahun 1985 Tentang Pesawat Angkat Angkut 3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 01. Tahun 1989 Tentang Kualifikasi dan Syarat – syarat Operator Keran Angkat 4. Alat Bantu Angkat (ABA) 5. Tali Kawat baja 6. Metode Kerja Pengikatan dan Pemberian ABA 7. Petunjuk Praktis pada pekerjaan pengikatan Metode Pelatihan Ceramah, diskusi & praktek Instruktur Instruktur yang akan memberikan pelatihan ini berasal dari Departemen Tenaga Kerja yang memiliki keahlian khusus di bidang K3 dan para counterpart yang telah ditraining di Jepang Peserta Pelatihan Peserta pelatihan adalah para rigger diperusahaan dan para operator crane Biaya Pelatihan Rp 3.500.000,- / No Residencial Jadwal Training Agustus 12 – 14 / 20 – 22  – Jakarta / Bandung / Jogja September 17 – 19 / 25 – 27  – Jakarta / Bandung / Jogja Oktober 21 – 23 / 25 – 27 – Jakarta / Bandung / Jogja November 04 – 06 / 20 – 22 – Jakarta / Bandung / Jogja Desember 15 – 17 / 25 – 27 – Jakarta / Bandung / Jogja Informasi Pendaftaran Bisa Juga Melalui : Phone  : 0821...
TRAINING HAZOPS ( Hazard and Operability Study )

TRAINING HAZOPS ( Hazard and Operability Study )

PEMAHAMAN Hazard Operability Study (HAZOPS) merupakan salah satu metoda untuk mengidentifikasi bahaya berdasarkan prinsip bahwa pendekatan tim dalam analisa bahaya akan dapat mengidentifikasi lebih banyak masalah dibandingkan hasil analisa gabungan dari identifikasi masing-masing pihak secara individu yang terpisah. Pendekatan HAZOPS melibatkan pertimbangan dari masing-masing sub-sistem dalam proses dan secara subyektif mengevaluasi akibat penyimpangan (deviasi) dari disain yang diharapkan bekerja. Pemeriksaan atas deviasi tersebut secara terstruktur dispesifikasikan ke dalam guide words, yang menjamin cakupan secara keseluruhan semua problem yang mungkin timbul, sehingga mendapatkan fleksibelitas yang cukup untuk pendekatan yang imaginative. HAZOPS terdiri dari beberapa orang yang berpengalaman dalam suatu pabrik atau pengetahuan mengenai disain fasilitas yang akan di-review, yang tergabung dalam suatu team. Setiap rapat HAZOPS dipandu oleh seorang HAZOPS leader, dan konklusinya dicatat dalam suatu dokumen (HAZOPS worksheet), sehingga langkah-langkah tindak lanjutnya dapat dilaksanakan dengan baik, sesuai dengan apa yang diharapkan. Oleh sebab itu untuk mempertahankan suatu Kilang Migas atau Pabrik  Petrokimia agar tetap beroperasi dengan andal (reliable), selamat/aman dan efisien, maka pihak manajemen perusahaan perlu mengaplikasikan HAZOPS sejak saat awal pembangunannya, operasi, sampai pada pembongkarannya (from cradle to grave). Untuk membentuk team HAZOPS yang baik, maka calon anggotanya perlu mengikuti pelatihan tentang aplikasi HAZOPS.   TUJUAN / SASARAN PELATIHAN HAZOPS Menjelaskan pendekatan HAZOPS sebagai bagian dari Hazard  Identifacation  Technique  (HET); Menyebutkan tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pelaksanaan teknik HAZOPS; Menjebutkan manfaat dari penerapan HAZOPS untuk manajemen risiko dalam pengendalian kerugian; Setelah selesai kursus Peserta akan mampu melaksanakan HAZOPS di plant site, sesuai dengan apa yang diharapkan oleh perusahaan.   MATERI PELATIHAN Materi PELATIHAN meliputi hal-hal sebagai berikut: A.     Materi Pendukung: Konsep Dasar K-3 Hazard Identification & Risk Assessment...
TRAINING SCAFFOLDING – KEMENAKERTRANS

TRAINING SCAFFOLDING – KEMENAKERTRANS

DESKRIPSI Mengetahui dan melaksanakan peraturan keselamatan kerja yang berlaku pada saat menangani scaffolding merupakan suatu keahlian yang harus dimiliki oleh seorang Scaffolder. Peningkatan keahlian dari Scaffolder tersebut haruslah selalu di update dengan cara mengikuti pelatihan yang sesuai. Melalui pendidikan dan pelatihan, dapat ditingkatkan pengetahuan dan keterampilan, tanggung jawab dan disiplin, pemahaman dan pengertian tentang persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja. Pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera, bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Peraturan menteri tenaga kerja No. PER.01/MEN/1980 tentang keselamatan dan kesehatan kerja pada konstruksi bangunan mensyaratkan penggunaan perancah (scaffolding) yang sesuai dan aman untuk semua pekerjaan konstruksi. Maka dari itu, Kami sebagai perusahaan PJK3 yang ditunjuk oleh DEPNAKERTRANS RI menyelenggarakan pelatihan K3 perancah (scaffolding). TUJUAN Pelatihan ini dirancang untuk memenuhi peraturan pemerintah: UU no. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, Peraturan Menteri Tenaga Kerja no. PER. 01/MEN/1980 tentang Keselamatan & Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan dan SKB Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum no. Kep 174/Men/1986 dan no. 104/Kpts/1986 dan pedoman pelaksanaan tentang keselamatan dan kesehatan kerja pada tempat kegiatan konstruksi. Selain untuk memenuhi peraturan pemerintah, Pelatihan ini juga memiliki beberapa tujuan, yaitu: UMUM Dapat melakukan pekerjaan pemasangan, perawatan, pemeliharaan dan pembokaran perancah secara aman bagi keselamatan dirinya, orang lain, konstruksi dan bagian-bagian yang lainnya. AKADEMIK Memahami secara baik tentang : Potensi bahaya konstruksi perancah Cara pencegahan kecelakaan kerja perancah Prosedur kerja aman perancah Pengetahuan dasar perancah Jenis-jenis perancah Supervisi perancah Pemasangan dan pembongkaran perancah Standar dan pedoman teknis Peraturan dan standar perancah   KETERAMPILAN TEKNIK Dapat melakukan pekerjaan pemasangan, pemeliharaan dan pembongkaran perancah dengan selamat dan sehat, antara...
CONTRACTOR SAFETY MANAGEMENT SYSTEM (CSMS)

CONTRACTOR SAFETY MANAGEMENT SYSTEM (CSMS)

PENDAHULUAN Sistem Manajemen K3 yang diterapkan kepada kontraktor, meliputi beberapa elemen K3 yang sesuai dengan standar yang diacu (ISRS, ANSI, OHSAS, dll). CSMS sebagai bahan pertimbangan awal oleh perusahaan main contractor untuk menilai kinerja Kontraktor yang akan diterimanya. Perusahaan Wajib Menerapkan CSMS Syarat untuk dapat lolos prakualifikasi di Total, Unocal, dan Vico Meningkatkan profit perusahaan. Mengurangi angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Membangun citra positif perusahaan   Perusahaan Wajib Menerapkan CSMS disaat. 1. Tahap Kualifikasi Penilaian Resiko Pra Kualifikasi Pemilihan 2. Tahap Pelaksanaan Aktivitas Awal Kerja Pada Saat Pekerjaan Berlangsung Evaluasi Akhir   Penilaian AKHIR Menilai dan menakar resiko aktivitas pekerjaan yang akan dikontrakkan. Mengkategorikan resiko dengan kategori rendah, menengah dan tinggi.   Hal hal yang memperngaruhi resiko : Jenis pekerjaan Lokasi pekerjaan Potensi celaka karena bahaya di tempat kerja. Potensi celaka karena aktivitas kontraktor Pekerjaan simultan oleh beberapa kontraktor Lamanya pekerjaan Pengalaman dan keahlian kontraktor   PRA KUALIFIKASI Untuk meniliti kualifikasi kontraktor dalam hal K3. Hanya mereka yang memiliki sistem K3 yang akan diikutkan di dalam proses tender. PEMILIHAN/SELEKSI Untuk memilih kontraktor terbaik diantara mereka yang mengikuti tender. AKTIFITAS AWAL PEKERJAAN Adalah langkah untuk membuka komunikasi awal antara petugas lapangan kontraktor dan petugas lapangan perusahaan minyak dan tambang. Pre job activity meeting at office Pre job activity meeting at site Rencana Kerja (work plan) Review Potential Hazards and Safety Aspect Emergency Response Plan and Procedure Pre Job safety Meeting – site Orientasi Lapangan Finalization All Safety Requirement Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja   PADA SAAT BERLANGSUNG PEKERJAAN Inspeksi Keselamatan Kerja (Safety Inspection) Program Keselamatan Kerja (Safety Program): Safety Meeting, Safety Inspection, Safety Promotion, Safety Communication, Emergency Drills and...
AHLI K3 PESAWAT UAP BEJANA TEKAN

AHLI K3 PESAWAT UAP BEJANA TEKAN

PENDAHULUAN. Pemanfaatan bejana tekan akhir-akhir ini telah berkembang pesat di berbagai proses industri barang dan jasa maupun untuk fasilitas umum dan bahkan di rumah-rumah tangga. Bejana tekanan merupakan peralatan teknik yang mengandung resiko bahaya tinggi yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan atau peledakan. Tingginya resiko kecelakaan kerja dibidang Pesawat Uap dan Bejana Tekan (PUBT) membuat perusahaan semakin waspada akan bahaya yang mungkin ditimbulkan dari kecelakaan kerja PUBT. Oleh karena itu guna menghindari agar tidak terjadi kecelakaan atau peledakan, sangat penting untuk melakukan prosedur pengoperasian PUBT sesuai dengan standar yang berlaku. Sebelum dalam periode pemakaian setiap bejana tekan dan alat pengaman/perlengkapannya harus dilakukan pemeriksaan, pengujian, serta dirawat dengan baik dan teratur. Adanya tenaga kerja yang telah memiliki sertifikat ahli K3 PUBT juga merupakan faktor penting dalam menunjang pencegahan kecelakaan kerja PUBT yang mungkin terjadi karena dapat meminimalisir faktor – faktor yang dapat menjadi sumber kecelakaan kerja PUBT terutama human error dalam pengoperasian PUBT, sebagaimana diketahui bahwa human error berdampak besar sebagai asal mula terjadinya sebuah kecelakaan kerja. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu dikeluarkan suatu petunjuk teknis pelaksanaan pemeriksaan dan pengujian serta penerbitan pengesahan pemakaian agar terwujud keseragaman dan penanganan bejana tekan sehingga bejana tekanan dapat dioperasikan dengan aman dan efisien.   DASAR HUKUM Undang-undang No.13 tahun 2003 Undang-undang No. 01 tahun 1970 Steam Act dan Steam Regulation 1930 PP 19 tahun 1973 dan PP 11 tahun 1979 Peraturan Menakertrans No.01 Tahun 1982 Peraturan Menakertrans No.02 Tahun 1982 Peraturan Menakertrans No.03 Tahun 1982   TUJUAN Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam tehnik pengoperasian pesawat uap secara aman, benar dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang Kesehatan Keselamatan Kerja (K3)...
CHEMICAL BURNS

CHEMICAL BURNS

CHEMICAL BURNS• If the burns ‘re due to dry chemicals, brush off chemicals with gloved hands or a towel• Flush the area with large amounts of cool running water for at least 20 minutes or until EMS takes over• If the eye has been burned, flush the affected eye until EMS takes over. Keep affected eye lower than the unaffected eye• If possible, have the person remove contaminated clothing to prevent further...
Page 5 of 7« First...34567
error: Content is protected !!